|

Situs ini berada di desa Napo, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Makam Todilaling ditumbuhi pohon Beringin, sehingga badan makam tidak nampak lagi, kecuali Nisan masih tampak jelas. Tokoh Todilalaing adalah raja pertama Kerajaan Balanipa. Sebagaimana tercatat dalam Sure’ Galigo, kerajaan Balanipa sudah ada sejak abad ke – IX. Dikisahkan Bahwa pada suatu saat di wilayah itu terjadi kekacauan yang terjadi sekitar abad ke -16, I Manyambungi (Todilaling) dapat mengamankan peristiwa tersebut.
Posisi kerajaan Balanipa dalam Pitu Baqbana Binanga adalah sebagai bapak/ketua dan sekaligus sebagai pemeran pokok dalam sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan di Pitu Baqbana Binanga . Hal ini menguatkan bahwa Kerajaan Balanipa pada awalnya diperintah oleh I Manyabungi yang juga bergelar Todilaling. Karena waktu beliau mangkat segala barang atau tanda-tanda kerajaan dan kekuasaan beserta tujuh regu “Pattuqdu” (Penari Pria dan Wanita) dikubur bersama–sama dengan beliau pada satu tempat di Kecamatan Limboro (Desa Napo) Kabupaten Polewali Mandar, yang hingga sekarang masih dikeramatkan orang.
I manayambungi berasal dari Napo , semasa kecil belaiu sering bersabung ayam dengan sepupunya anak Tomakaka Napo. Dalam adu ayam tersebut I manyambungi menderita kalah, ayamnya terbunuh oleh ayam sepupunya. Dari kejadian tersebut orang-orang yang menyaksikan bersorak sorai gegap gempita bahkan menertawai I manyambungi karena ayam sabungnya kalah. Dalam peristiwa tersebut I manyambungi sangat malu dengan perlakuan orang-orang tersebut, dengan sifat keberanian yang dimilikinya , ia nekad menghabisi saudara itu dengan jalan manikamnya di depan orang banyak. Karena peristiwa itu , ia segera menghindar dan melarikan diri ke Gowa dengan menumpang perahu Makassar atas usulan Pappuangan Messo di Campalagian.
Sejak kejadian tersebut I Manyambungi berstatus sebagai orang yang dicari di daerahnya dan bila sewaktu-waktu ia ditemukan ia bakal akan mendapat hukuman sesuai dengan perbuatannya. Perjalanan ke Kerajaan Gowa sangat membantu dalam menempa dirinya kelak menjadi seorang ternama ( Raja ) karena ditunjang oleh watak keberaniannya itu. Beliau menetap cukup lama di Kerajaan Gowa. Di Gowa ia di tempa menjadi Juak yakni anggota militer Kerajaan Gowa, bahkan pihak kerajaan Gowa pada waktu itu memberi kepercayaan kepadanya untuk memimpin tentara memerangi musuh-musuh yang ada di sekitarnya.
Kepopuleran I Manyambungi di Kerajaan Gowa tersebut di dengar oleh pemuka-pemuka masyarakat di daerah asalnya (Mandar), diperburuk dengan kekacauan di dalam negeri pada waktu itu. Kondisi ini di manfaatkan sebaik-baiknya oleh pemuka masyarakat untuk menghadap Raja Gowa, meminta agar mengembalikan I Manyambungi ke tanah kelahirannya tanah Mandar.
Usaha menjemput kembali I Manyambungi diupayakan dengan segera oleh pemuka-pemuka Kerajaan, sehingga suatu hari berangkatlah utusan Mandar ke Gowa yang terdiri dari utusan Napo, Limboro beserta Pappuangan Mosso menghadap Raja Gowa, meminta agar mengembalikan I Manyambungi ke tanah Mandar.
Kehadiran I Manyambungi sangat diharapkan karena mereka menganggap bahwa untuk mengatasi kekacauan yang terjadi di tanah Mandar diperlukan figur seperti I Manyambungi. Kembalinya I Manyambungi dari perantauan yakni kerajaan Gowa merupakan suatu tonggak sejarah baru di Kerajaan Mandar di masa datang, khususnya di Balanipa. I Manyambungi membawa pohon Nipa dari Gowa kemudian setelah sampai ke negerinya, pohon tersebut ditanam di halaman rumahnya lalu dipagari berkeliling ( Bala = pagar, Nipa = pohon Nipa, yang berarti Pagar Nipa).
Setelah itu beliau diangkat menjadi Raja Balanipa yang meliputi Daerah Appe Banua Kaiyang (Empat Kampung besar ), yakni Napo, Samasundu, Todang-todang, dan Mosso. I Manyambungi kemudian berangkat ke Gowa untuk mempersunting seorang gadis anak keluarga raja. Perkawinan tersebut melahirkan anak yang bernama Tomepayung yang kelak menjadi raja kedua Kerajaan Balanipa. Kerajaan Balanipa pertama kali berdiri pada tahun 1440 M dengan raja yang bernama I Manyambungi bergelar Maraddia 1. Dalam Lontarak Mandar disebutkan bahwa Tomanurung tidak turun di daerah Mandar, tetapi turun di daerah hulu sungai saddang yang melahirkan tujuh orang anak yang masing-masing keseluruh penjuru daerah Sulawesi Selatan. Salah seorang dari tujuh anak tersebut bernama Tobittoeng kawin dengan salah seorang Tomakaka Napo dan dari perkawinan itu lahir I Manyambungi yang kemudian menjadi Arajang Balanipa (Raja) pertama di Mandar. Setelah wafat, beliau disebut Todilaling, makamnya terdapat di Desa Napo, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar. Ketuurunan Todilaling inilah yang menjadi cikal bakal raja-raja dan Bangsawan di Tanah Mandar.
|